Rabu, 05 Juni 2013

Pencitraan Kandidat di Media


Pencitraan Kandidat di Media
Oleh: Andi Fadli (Pengamat Media/ The Political Society)
MENCERMATI tiap hari perpolitikan nusantara, tanah air kita boleh jadi menjadi suatu  kegiatan  menyenangkan dan juga bisa sad activities. Menilik,  kelamnya sejarah perpolitikan Indonesia sejak proklamasi 45, dimulai  dengan kesedihan umat Islam ketika perdebatan antara kaum nasionalis dan ulama yang endingnya kemenangan bagi kaum nasionalis yakni penghapusan piagam Jakarta. Berlanjut tangisan Rakyat  ketika pergolakan kaum sosialis yang tergabung dalam PKI menculik para Jendral, berikut  TRITURA, kediktatoran Rezim, kejadian Semanggi, sampai turunnya Presiden  ke-2 atas kemarahan rakyat yang menderita akibat krisis. Sekarang kita di kejutkan  dengan nuansa politik yang tidak menentu dan serba kepentingan golongan. Penyakit ini sepertinya  menjalar di lembaga-lembaga pemerintahan dan partai-partai politik beserta kiprah para kadernya di parlemen dan di luar.
Apa yang tertulis diatas, hanyalah sebuah kondisi riil yang terjadi pada bangsa Indonesia tercinta ini. Boleh jadi, sebagian warga negara setuju, namun pastinya ada juga yang tidak setuju. Sebagai bangsa yang katanya lagi belajar berdemokrasi, hal tersebut sah-sah saja menjadi opini public  di masyarakat.
Dalam keadaaan bangsa yang terkesan masih dalam serba ketidakpastian, sejumlah tokoh-tokoh baik nasional maupun lokasl berlomba-lomba terus melakukan pencitraan. Kata pencitraan, belakangan menjadi kian terdengar seiring banyaknya lembaga konsultan komunikasi tumbuh bak cendawan di musim hujan.  Apalagi, memang banyak indivividu, orang perorang, kelompok, komunitas, perusahaan yang memang butuh pencitraan. Dalam hal ini adalah pencitraan, pastilah menguntungkan untuk kepentingannya. Terlebih lagi orang yang berkecimpung dalam dunia politik.  Semua sah-sah saja, sepanjang semua bisa mempertanggungjawabkan kegiatannya untuk kepentingan dan pencerahan public atau masyarakat Indonesia.
Politik pencitraan harus dilakukan berdasar hasil nyata suatu kebijakan yang dapat dirasakan masyarakat. Jika politik pencitraan dilepaskan dari sebuah keberhasilan, ia hanya sekadar menjadi instrumen untuk menjaga kekuasaan yang dipegangnya. Hal itu tidak berbeda dengan cara yang disebut politik menghalalkan segala cara yang dilakukan sejumlah politisi agar bertahan pada kekuasaannya.  Demi sebuah tahta kekuasaan.
Keberanian mengambil resiko memberi kemungkinan meraih kemenangan meski ada risiko kegagalan. Bagi pemimpin, resiko tidak dapat dihindari, termasuk resiko tidak populer. Karena, pemimpin tidak mungkin disenangi semua orang. Sebab, tuntutan bagi pemimpin adalah mengetahui hal penting yang harus dilakukan untuk kepentingan bersama. Makanya, pemimpin dituntut sensitif dan cerdas mengenai hal yang penting untuk kepentingan masyarakat lebih luas.
Kita ibaratkan bermain sulap., banyak   orang yang  menjadi berdecak kagum,  melihat permainan sulap. Apalagi, yang main sangat ahli, seperti David Copperfield. Namun entah pesulap.  atau tukang sihir, orang-orang tetap  banyak tertarik  dan kagum.
Sekarang, partai-partai politik melalui iklan di media elektronik dan cetak, tak ubahnya seperti tukang sulap dan tukang sihir, yang ingin mengubah pencitraan tokoh atau partainya dengan iklan. Apakah, partai-partai politik yang sekarang memasang iklan di tv dan media cetak itu, kiranya dapat disamakan dengan tukang sulap atau David Copperfield?
Peranan media elektronik (khusus tv)  dan cetak sangat luar biasa, terutama  dalam membentuk opini, dan mempengaruhi pendapat masyarakat. Pesan yang disampaikan media pasti mendapat ‘feed back’ dari publik (masyarakat). Maka, tak heran dalam sistem demokrasi yang sudah mapan, media menjadi pilar yang kelima. Media menjadi sarana yang ikut mempengaruhi dan menjaga eksistensi demokrasi. Media  bukan hanya mempengaruhi publik, tapi memiliki jangkauan yang sangat luas terhadap kehidupan publik. Seperti di Indonesia, yang bukan negara continental, dan wilayahnya terbagi-bagi menjadi daerah kepalauan, peranan media massa sangat penting.
Kini, media benar-benar menjadi kebutuhan primer bagi partai politik atau kandidat penguasa, khususnya dalam memenangkan ‘the battle ground’ (perang darat), menjelang pemilu atau Pilkada untuk mendapatkan dukungan politik dari publik atau pemilih. Media massa menjadi pilihan atau alternative. Pilihannya, bukan lagi kader partai, yang menjadi andalan atau tulang punggung. Pilihannya, bukan lagi militansi kader, dan jaringan partai, tapi media massa yang dianggap bisa menjadi 'tukang sihir', dan bisa menjembatani antara partai dengan publik. Maka,  yang sering tampil di media, entah melalui iklan, atau berita, dinilai berimplikasi akan bertambah sering dikenal oleh rakyat pemilih.
Maka, partai-partai politik dan orang yang ingin memimpin daerah (Gub/wagub/Bup/Wabup) berlomba menciptakan iklan, yang dapat mencitrakan partai atau tokohnya, yang dapat menarik perhatian rakyat. Ini dianggap pilihan-pilihan politik yang kreatif,yang tujuannya mendapat dukungan yang luas.
Selain partai, sejumlah tokoh-tokoh termasuk Sulawesi selatan  akhir-akhir ini makin gencar melakukan pencitraan. Langsung ataupun tidak langsung, suka atau tidak suka, pemasangan baliho-baliho dan ucapan-ucapan di koran, radio  dan televise  sangat mempengaruhi  masyarakat. Isu atau berita baik kritikan maupun ceremony, tetap mempunyai  pengaruh  tergantung kemasannya.  Itulah yang di sebut dengan  politik pencitraan (imagologi politic) yang melekat di sebagian besar politisi sekarang, termasuk di Sulsel. Begitu piawai memerankan politik pencitraan hingga terbangun citra yang meraih empati sekaligus simpati dari publik.
Sekarang ini, iklan merupakan upaya untuk mengkomunikasikan konteks sosial dari barang dan produksi (William Leiss,1990). Iklan merupakan bagian dari sistem budaya yang bisa membantu mengintegrasikan khayalak dalam sebuah sistem sosial. Berdasarkan konsep Leiss-- iklan politik menjadi sangat penting. Bukan hanya agar massa berbondong-bondong menjatuhkan pilihan, tetapi juga dalam rangka integrasi sosial.
Mengutip (Hafer dan White--1999)--menyatakan bahwa untuk membuat pesan iklan dapat ditangkap dengan cepat haruslah didukung oleh bahasa gambar/ilustrasi. Manusia dengan berbagai latar belakang dan kualitas pendidikan akan merespon gambar yang kuat dan komunikatif, dimana ilustrasi tersebut dapat mengakomodir keseluruhan isi pesan untuk dipahami oleh khalayak sasarannya. Untuk itu harus diperhatikan faktor-faktor determinan stimulus perhatian yaitu ukuran, warna, kekontrasan, kebaruan dan gerakan.
Keberhasilan iklan sebenarnya bukan terbatas pada kemampuannya menarik perhatian, melainkan harus juga mampu diterima dan dipahami oleh masyarakat atas  pesan-pesan yang disampaikan. Penerimaan iklan sangat bergantung pada pikiran yang muncul selama tahap pemahaman pesan yang dipengaruhi oleh aspek keterlibatan kognitif dan afektif khalayak.
Peranan Media Televisi
Dewasa ini pencitraan diri yang merupakan bagian dari kampanye sangat bergantung pada media iklan baik cetak maupun elektronik guna meraih simpati masyarakat. Iklan melalui media televisi memang memiliki banyak keunggulan, karena bisa menyajikan bahasa tubuh dan cara berkomunikasi serta penampilan sang calon. Bila dikemas atau disajikan dengan baik maka iklan tersebut menarik dan akan disukai, sebaliknya jika dalam pembuatannya iklan tidak dipersiapkan dengan baik maka iklan tersebut akan kurang mendapat perhatian penonton.
Tokoh dunia seperti John F Kennedy (JFK) dalam meraih simpati dan menggugah empati rakyat AS, pernah memperagakan pencitraan dirinya sebagai bentuk komunikasi melalui televisi. Sosok JFK senantiasa tampil sebagai pribadi yang sejuk, santun dan penuh pesona. Bersalaman dengan berbagai lapisan masyarakat, berbicang dengan anak muda, bermain bola dan berlayar untuk menunjukkan kebugaran dan vitalitasnya bahkan menggunakan lagu High Hope-nya Frank Sinatra sebagai jingle iklan. Tokoh Amerika lainnya Nixon, pada masa mudanya yang mantan juara debat di sekolah selalu berusaha menunjukkan diri sebagai kandidat yang cerdas pemikirannya dan selalu melontarkan isu-isu mendasar dengan cara konfrontatif.
Namun demikian,  pencitraan yang di bangun  melalui media  dengan sajian program maupun iklan, hendaklah  tetap menjunjung tinggi nilai-nilai keberadaban. Indonesia pada umumnya, Sulsel khususnya harus tetap menjunjung tinggi nilai etika, meski  atas nama iklan komersial yang  telah di kontrak oleh si pemesan atau kandidat pemimpin.
Dalam kesempatan ini, penulis ingin mengingatkan, hendaklah jangan saling menghujat dan membuka aib, seakan-akan si ‘pemesan’ iklan itulah yang terbaik seperti malaikat.  Sajikan informasi atau iklan secara  kreatif,  yang terarah kepada program dan lebih menyentuh serta  mencerdaskan masyarakat, sebagai pemilih anda nantinya.  Penulis tetap menyarankan, bahwa  meski telah membayar halaman dan durasi di radio maupun tv hingga ratusan juta rupiah, mestinya  tetap berada jalur ‘Sipakalebbi dan Sipakainge’.  Kendati tidak masuk pada wilayah Kode Etik Jurnalistik, Undang Undang Pers dan Undang-undang Penyiaran secara khusus, namun setelah menjadi iklan di sampaikan kepada masyarakat, artinya telah menjadi komsumsi public. Masyarakat tetap harus di beri pelajaran, karena iklan tersebut hadir di media massa.  Perlu selalu di ingat, bahwa salah satu fungsi media selain informasi adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan bernegara, dan Sulawesi  selatan—Makassar, masih menjadi bagian dari daerah  yang beradat dan bermartabat.***




















Tidak ada komentar:

Posting Komentar