Rabu, 05 Juni 2013

pemilihan walikota



yonbkm@yahoo.com
Pencitraan Kandidat  Makassar dan  Program ‘Co py’ Paste
Andi Fadli: (Researcher Analyzes The Political Society)  
HAMPIR pasti, 9 bahkan 10 kandidat calon Walikota dan Wakil Walikota akan bertarung dalam pemilihan bulan September mendatang.  Jumlah pasangan yang fantastis sepanjang sejarah pemilihan kepala daerah.  ‘Perang’  yang katanya program para kandidat sudah bermunculan  dan menjadi jualan di semua sudut kota.  Baik melalui baliho besar, poster maupun yang langsung  ke media massa (cetak dan elektronik). Semua di lakukan untuk mengangkat pencitraan lebih baik, agar mendapat keterpilihan  di tengah masyakat.
 Pemilihan Walikota Makassar tinggal 4 bulan lagi. Wajar, semakin dekat hari H, semakin gencar para kandidat dan tim suksesnya melancarkan ‘serangan’ baik udara dan darat.  Pertanyaannya, apakah program tersebut hanya sekadar  kampanye  belaka, ataukah memang sudah mendapat kajian tentang kebutuhan masyarakat? Kita masih perlu menganalisa dan menelaah  secara  mendalam. Yang pasti para tim sukses kandidat, dengan tegas menyatakan bahwa programnyalah yang paling  menyentuh dan di butuhkan oleh masyarakat kota Makassar. Entah benar atau tidak, warga yang akan menentukan pilihan. 
Dalam kesempatan kali ini, penulis tidak ingin mengurai secara spesifik satu persatu program para kanidat yang akan bertarung. Namun menurut penilaian kami (mungkin subyektif), hampir semua program yang di luncurkan oleh para kandadat yang akan bertarung, masih sebatas  copy paste (jiplak-red) saja. Terkesan hanya  sejumlah kalimat yang berubah, namun esensinya tetap sama.  Mulai dari pelayanan serba gratis (kesehatan, pendidikan, listrik  dan lain-lain), peduli rakyat   sampai pada  peluncuran kartu. Padahal  pendidikan  merupakan tanggung jawab Negara. Hampir semua program masih menimbulkan tanda tanya. Benarkah, atau bohong!? Apakah hanya sebatas itu, janji atau jualan para kandidat, apalagi beberapa diantara program sudah  banyak di lontarkan kandidat sebelumnya pada pilkada serupa atau pilkada lain (Jokowi  Jakarta dan Pilkada Gubernur Sulsel-red).  Setelah terpilih pemimpin itu, ternyata beberapa janji yang pernah di lontarkan saat kampanye ‘terkesan’ sudah terlupakan.  Masyarakat sebagai pemilih, pelan tapi pasti  akan menagih janji politik tersebut.  Beberapa pengajar komunikasi politik , bahkan menyarankan program jangan hanya gombal, tapi mesti lebih kreatif dan terukur.   
Era transparansi dan keterbukaan seperti sekarang, siapapun boleh saja melakukan pencitraan agar kandidat lebih di kenal . Namun pencitraan berdasar pada persoalan riil masyarakat. Selain itu perlu manajemen isu yang bagus agar dapat menyentuh dan di terima oleh masyarakat. Apalagi dengan jumlah kontestan pilwalkot  sangat banyak, menjadikan program yang di ‘lempar’ ke masyarakat hanya kata dan kalimat saja berubah. Esensinya tetap sama. Boleh jadi bisa masuk rekor MURI (calon kandidat terbanyak pilwalkot). Makanya, harapan kami sebagai warga   program dan  janji  jangan  sekadar di putar saja.  Visi misi harus jelas!  Kebutuhan apa  yang di inginkan oleh lebih separuh penduduk Makassar yang masih berada pada tingkat golongan menengah ke bawah. Pula , keinginan wilayah pinggiran kota yang di huni warga mestinya menjadi prioritas kandidat dan tim suksesnya.
Selain  program berupa janji-janji  saat terpilih nantinya, ada hal penting  pula yang harus di lakukan kandidat dan tim.  Bagaimana dapat memberikan pembelajaran politik baik kepada masyarakat yang berbeda strata kehidupan dan tingkat pendidikan (lebih 1,2 juta jiwa penduduk).  Pula sistem komunikasi atau marketing politik   para tim sukses  harus lebih intens dilakukan,  agar mengurangi angka golput!  Ibaratnya, meski program yang di luncurkan sangat mumpuni, namun  partisipasi pemilih sangat rendah, sama halnya menjadi sia-sia belaka.  Para kandidat dan tim harus memikirkan, bagaimana mengurangi angka golput. Mengingat data sejumlah media, ternyata  mencapai angka 40  persen orang memilih golput pada Pilkada beberapa bulan lalu. Meski tidak harus menjadi tolak  ukur  dan berbanding lurus angka golput Pilkada Gubernur dan Pilwalkot Makassar nantinya.  Setidaknya menjadi perhatian bersama antara penyelenggara bersama 10 kandidat yang akan bertarung pada Pilwalkot nantinya.   
Menelaah dan menilik dari perspektif lain, untuk melakukan politik pencitraan harus dilakukan berdasar hasil nyata suatu kebijakan yang dapat dirasakan masyarakat. Jika politik pencitraan dilepaskan dari sebuah keberhasilan,  maka (ia) hanya sekadar menjadi instrumen untuk menjaga kekuasaan yang dipegang. Hal itu tidak berbeda dengan cara yang disebut politik menghalalkan segala cara yang dilakukan sejumlah politisi agar bertahan pada kekuasaannya.  Demi sebuah tahta kekuasaan!
Keberanian mengambil resiko memberi kemungkinan meraih kemenangan meski ada resiko kegagalan. Bagi pemimpin, resiko tidak dapat dihindari, termasuk resiko tidak populer. Karena, pemimpin tidak mungkin disenangi semua orang. Sebab, tuntutan bagi pemimpin adalah mengetahui hal penting yang harus dilakukan untuk kepentingan bersama. Makanya, pemimpin dituntut sensitif dan cerdas mengenai hal yang penting untuk kepentingan masyarakat lebih luas. Hal itulah disebut politik pencitraan (imagologi politic) yang melekat di sebagian besar politisi sekarang, termasuk di Sulsel. Begitu piawai memerankan politik pencitraan hingga terbangun citra yang meraih empati sekaligus simpati dari publik.
Menguitip (William Leiss-1990), dalam era kini, iklan merupakan upaya untuk mengkomunikasikan konteks sosial dari barang dan produksi. Iklan merupakan bagian dari sistem budaya yang bisa membantu mengintegrasikan khayalak dalam sebuah sistem sosial. Berdasarkan konsep Leiss-- iklan politik menjadi sangat penting. Bukan hanya agar massa berbondong-bondong menjatuhkan pilihan, tetapi juga dalam rangka integrasi sosial.
Sementara itu-- (Hafer dan White--1999)--menyatakan bahwa, untuk membuat pesan iklan dapat ditangkap dengan cepat haruslah didukung oleh bahasa gambar/ilustrasi. Manusia dengan berbagai latar belakang dan kualitas pendidikan akan merespon gambar yang kuat. Artinya, selain program yang baik untuk kepentingan masyarakat, ‘jualan’ mesti di dukung oleh narasi dan gambar, agar mudah langsung di mengerti lapisan warga kota.
===
**Sebuah Konsep Pengabdian**
 Dalam kesempatan kali ini, penulis ingin memberikan suatu masukan tentang sebuah konsep pemerintahan. Sederhana, tapi bisa jadi sulit melaksanakannya! Jika memang, niatnya  ingin mengabdi kepada rakyat, intinya adalah pelayanan. Bagaimana sebuah sistem bisa melayani rakyatnya dengan baik, tidak hanya menjadikan rakyat sebagai komoditi untuk melanggengkan suatu kekuasaan. Selanjutnya,  yang perlu di perhatikan adalah sebuah  sikap  tegas,  dan harus di hilangkan dalam sebuah pemerintahan adalah praktik otoriter dan feodalisme. Karena feodalisme adalah salah satu virus dalam demokrasi.  Hal itu yang selalu mengungkung hak hak rakyat, sehingga menciptakan kesenjangan penguasa dengan rakyatnya untuk berinteraksi. Makanya,  cara pandang masyarakat harus di ubah. Perlu di dorong agar cara berfikir mereka lebih maju., tidak boleh lagi asal bos senang, sebab hal itu adalah gaya feodalisme.
Konsekuensi dalam sebuah pembangunan adalah perubahan.  Selanjutnya, perubahan pembangunan menuntut kita agar lebih terbuka. Bukan lagi pembangunan menyenangkan penguasa, melainkan melayani hak-hak masyarakat secara layak.
Siapapun punya hak untuk maju dalam sebuah pemilihan kepala daerah.  Yang penting, bagaimana memahami kebutuhan masyarakat sekarang (Makassar).  Dan sebenarnya, jika kemudian ingin memahami dan sadar,  adalah hak-hak masyarakat tidak terlalu muluk-muluk seperti sebagian orang yang lebih bersifat konsumtif. Intinya pemenuhan akan, makan, kesehatan dan pendidikan (sekolah). Pesan terakhir penulis kali ini kepada para kandidat dan tim, adalah  bagaimana membuat warga kota Makassar dapat  merasa nyaman dan tenang tinggal di kota metropolitan yang kita cintai ini.
Terima kasih!











Selain itu, system komunikasi apa yang di pakai kandidat mengurangi angka golput. Mengingat angka
golput sesuai data dari media mencapai angka 40 persen saat Pilkada Gubernur. Meski  tidak boleh langsung memprediksi angka golput mencapai angka seperti itu, namun setidaknya para kandidat juga memberikan pembelajaran politik terhadap 1,2 juta warga Makassar, khususnya para pemilih aktiof tersebut,






Mc Luchan menjadi penting  dalam pengembangan teori budaya karena mengisnpirasi tentang media, budaya dan masyarakat amerika utara saat itu. Mc Luchan menggariskan visinya lewat understanding media (1964) tentang perubahan akibat kemunculan radio dan tv. Dia memproklamrikan  ‘the medium is the message’. Media baru telah mentransformasi  pesan pengalaman kita, dan pengaruhnya lebih penting dari isi media itu sendiri. Media memiliki pengaruh tersendiri, terlepas dari apa isi yang dibawakannya.

Tapi ada juga teori yang mengemukakan,  manusia punya hak otonomi dan wewenang dalam memperlakukan media. Karena khalayak punya banyak alas an dalam menggunakan media, dan bagaimana media itu berdampak pada dirinya.
Teori yang terkenal dalam komunikasi massa adalah uses dan gratifications. Bahwa permasalahan utama bukan pada bagaimana cara media mengubah sikap dan prilaku khalayak, tetapi lebih kepada bagaimana media memenuhi kebutuhan pribadi  dan social khalayak.
 


 
Selain itu, system komunikasi apa yang di pakai kandidat mengurangi angka golput. Mengingat angka
golput sesuai data dari media mencapai angka 40 persen saat Pilkada Gubernur. Meski  tidak boleh langsung memprediksi angka golput mencapai angka seperti itu, namun setidaknya para kandidat juga memberikan pembelajaran politik terhadap 1,2 juta warga Makassar, khususnya para pemilih aktiof tersebut,





  

Mc Luchan menjadi penting  dalam pengembangan teori budaya karena mengisnpirasi tentang media, budaya dan masyarakat amerika utara saat itu. Mc Luchan menggariskan visinya lewat understanding media (1964) tentang perubahan akibat kemunculan radio dan tv. Dia memproklamrikan  ‘the medium is the message’. Media baru telah mentransformasi  pesan pengalaman kita, dan pengaruhnya lebih penting dari isi media itu sendiri. Media memiliki pengaruh tersendiri, terlepas dari apa isi yang dibawakannya.

Tapi ada juga teori yang mengemukakan,  manusia punya hak otonomi dan wewenang dalam memperlakukan media. Karena khalayak punya banyak alas an dalam menggunakan media, dan bagaimana media itu berdampak pada dirinya.
Teori yang terkenal dalam komunikasi massa adalah uses dan gratifications. Bahwa permasalahan utama bukan pada bagaimana cara media mengubah sikap dan prilaku khalayak, tetapi lebih kepada bagaimana media memenuhi kebutuhan pribadi  dan social khalayak.

PRINSIP pemerintahan sebenarnya sederhana. Jika memang, niatnya  ingin mengabdi kepada rakyat. Intinya adalah pelayanan. Bagaimana sebuah sistem bisa melayani rakyatnya dengan baik, tidak hanya menjadikan rakyat sebagai komoditi untuk melanggengkan suatu kekuasaan. Selanjutnya,  yang perlu di perhatikan adalah sebuah  sikap  tegas,  dan harus di hilangkan dalam sebuah pemerintahan adalah praktik otoriter dan feodalisme. Karena feodalisme adalah salah satu virus dalam demokrasi.  Hal itu yang selalu mengungkung hak hak rakyat, sehingga menciptakan kesenjangan penguasa dengan rakyatnya untuk berinteraksi. Karena itu,  cara pandang masyarakat harus di ubah. Harus di dorong agar cara berfikir mereka lebih maju., tidak boleh lagi asal bos senang. Sebab itu adalah gaya feodalisme.
Konsekuensi dalam sebuah pembangunan adalah perubahan.  Selanjutnya, perubahan pembangunan menuntut kita agar lebih terbuka. Bukan lagi pembangunan menyenangkan penguasa, melainkan melayani hak-hak masyarakat secara layak.
Siapapun punya hak untuk maju dalam sebuah pemilihan daerah.  Yang penting, bagaimana memahami kebutuhan masyarakat sekarang.  Dan sebenarnya, kalau ingin memahami dan sadar, hak-hak masyarakat tidak terlalu muluk-muluk seperti sebagian orang yang lebih bersifat konsumtif. Intinya pemunuhan akan, makan, kesehatan dan sekolah.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar